Siti Nurhaliza Antara Karir dan Keluarga

1164641595b.jpg

Buatkan Suami Teh Tiap Pagi
Menikah bukan akhir karir cemerlang Siti Nurhaliza. Setelah menyandang status istri Datuk Khalid Mohamad Jiwa, wanita berumur 27 tahun ini malah merasakan banyak anugerah yang mampir kepadanya. Di sela-sela pemilihan Gadis Pantene 2006, diva negeri jiran itu membagi kisahnya kepada Jawa Pos di studio Trans TV, Jakarta, Minggu malam lalu.

Bagaimana rasanya setelah menjadi seorang istri?

Siti lebih berbahagia. Kalau dulu banyak godaan, sekarang sudah ada di bawah jagaan seorang suami. Saling hormat, jujur, punya shoulder to cry on. Ini adalah satu fase hidup yang lebih matang.

Bagaimana cara Siti membagi tugas antara istri dan peran sebagai artis?

Bukan hal mudah bagi wanita untuk berjaya. Ya, berjaya dalam urusan karir maupun jaya sebagai istri. Nantinya berjaya sebagai ibu kalau sudah punya anak-anak. Tapi, Siti tak perlu risau. Apa pun perkaranya, syukur alhamdulilah suami bisa mengerti. Sekarang memang jadi tambah sibuk. Apalagi, untuk acara Pantene ini, Siti harus lebih sering bolak-balik Jakarta-Kuala Lumpur. Tapi, Datuk mengerti. Dia mengenal Siti ketika Siti sudah menjadi selebriti. Jadi, dia memahami dan mendukung Siti.

Kalau bepergian lama untuk urusan karir, adakah hari pengganti untuk keluarga?

Sistem penggantian hari seperti itu belum terkonsep oleh Siti. Hanya, Siti memang harus cepat pulang. Kalau dulu setelah show di Jakarta Siti bisa shopping-shopping dulu, sekarang kalau memang pekerjaan sudah selesai, Siti langsung pulang. Tempat belanja favorit Siti di Jakarta itu Mangga dua dan Plaza Senayan.

Dalam seminggu, bagaimana pembagian hari untuk keluarga dan karir?

Setelah menikah, saya usahakan tiga atau empat hari untuk bekerja. Sisanya, tiga atau dua hari spend time untuk keluarga.

Bagaimana kegiatan Siti setiap hari?

Hampir setiap minggu Siti sibuk karena ada program mentor (kalau di Indonesia Bintang Cari Bintang). Siti juga masih berkantor untuk mengawasi bisnis C-Tea, staf-staf juga. Selain itu, memantau Siti punya manajemen. Tapi, untuk yang ini, Siti bisa ready di rumah saja, cukup memantau up-to-date-nya dari rumah.

Kalau boleh dipersentasekan, berapa angka prioritas Siti untuk keluarga?

Sebanyak 59 persen (tertawa) untuk keluarga. Memang ini tidak mudah. Harus pandai-pandai juga mengatur waktu dan menjaga keluarga. Karena rumah tangga itu bergantung pada kami berdua. Kalau bukan kami yang menjaga, ya siapa lagi. Kegagalan dalam rumah tangga kan tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.

Setelah menikah, lalu umrah. Ada rencana pergi haji?

Tepatnya Ramadan kemarin, Siti dan Datuk melaksanakan umrah. Bagi Siti, ini umrah yang keempat. Siti bahagia. Insya Allah tahun depan Siti mau jadi hajah. Ini sudah Siti planning jika memang ada rezeki dan direstui.

Apa saja yang Siti lakukan setelah menjadi seorang istri?

Masak untuk suami. Kebetulan taste kami sama. Suka yang pedas-pedas. Tapi, belum bisa masak yang banyak lauk karena nggak sempat. Hanya masak makanan kampung. Siti juga buatkan teh untuk suami setiap hari, kecuali kalau sedang ke luar kota begini.

Rencana untuk mempunyai momongan?

Doakan saja. Siti dan Datuk memang sudah bersedia. Kalau memang diberi rezeki di awal, tentu Siti akan sangat berbahagia.

Datuk pernah cemburu kepada Siti yang begitu sibuk?

Ke mana pun Siti pergi selalu dalam dampingan keluarga. Ada Abang, adik Siti sendiri. Jadi, Datuk percaya karena di mana pun Siti berada selalu ada keluarga yang ikut serta. Lagi pula, Siti juga izin ke suami. Kalau dulu izin ke orang tua, sekarang harus suami. Jadi, selama ini tidak ada cemburu.

Siti pernah jenuh dengan keseharian Siti sebagai artis?

Alhamdulilah tidak. Inilah dunia Siti. Semua kegiatan Siti yang dipantau penggemar dan pers dianggap sebagai penghargaan yang indah. Siti sudah hidup begini 11 tahun. Sudah get used to it (terbiasa).

Apa yang membuat Siti kangen pada Jakarta?

Makanannya. Siti selalu pesan disediakan bakso setiap kali ke Jakarta. Selain itu, Siti suka masakan Padang. (nik)