Skip to content

June 17, 2002

5

Bintang Cemerlang dari Kampung Tawah.



“Jakarta, KCM

KCM/ilustrasi: totok h

Pada sebuah Jumat (14/6), waktu hampir menunjukkan pukul 21.00 WIB. Gadis cantik nan anggun ini melenggang ke atas pentas seraya mengumbar senyumnya yang indah. Tepuk tangan bahkan teriakan histeris penonton –atas komando seorang produser acara televisi– terdengar rancak menghangatkan hawa dingin di Studio 1 Indosiar malam itu.

Dengan suaranya yang lembut, ia pun lantas menyapa para tetamu yang duduk manis. “”Assalamualaikum. Salam sejahtera. Malam ini, Siti hendak menyanyi untuk Anda semua di studio ini, juga para pemirsa televisi Indosiar di rumah. Siti harap Anda semua terhibur, ya,”" begitu sapa lembut penyanyi asal Negeri Jiran Siti Nurhaliza, 23 tahun, sebelum pementasan Satu Jam Bersama Siti Nurhaliza berlangsung.

Siti –begitu ia menyebut namanya– hadir di Jakarta dalam rangka promosi album mutakhirnya, Sanggar Mustika yang juga beredar di Indonesia. Satu Jam Bersama Siti Nurhaliza, yang disiarkan secara langsung oleh Indosiar pada Jumat malam itu, pun digelar berkaitan dengan promosi album tersebut. Penampilannya kali ini merupakan yang kedua dalam Satu Jam Bersama. Pada 1997, ia mendapat kehormatan sebagai bintang perdana acara itu.

Di stasiun televisi yang sama, masih dalam rangka promosi Sanggar Mustika, album kelimanya yang beredar di Indonesia dan ke-10 di Malaysia, Siti bakal pula meramaikan acara Tembang Kenangan pada Sabtu, 22 Juni 2002.

Maka, Jumat Legi lalu memang benar-benar milik dara kelahiran Kampung Awah, Temerloh, Pahang, 11 Januari 1979 ini. Tepat pada pukul 21.00 WIB, dengan mengenakan busana Melayu modern berwarna biru, ia mengawali penampilannya dengan menyuguhkan alunan lagu Melayu berjudul Joged Pahang. Mulailah Siti unjuk kebolehan mempertontonkan kualitas vokalnya yang menawan dan terdengar melambai-lambai di telinga.

Semua orang tentunya mahfum tentang kepiawaian Siti yang satu ini. Ia punya talenta yang luar biasa. Hebatnya, enam tahun berkiprah di dunia tarik suara, tercatat 72 penghargaan telah diraihnya, baik di tingkat lokal maupun internasional. Maka, jangan heran kalau di usia yang terbilang muda, ia termasuk penyanyi yang disegani di belantara industri musik Malaysia.

Tak salah kiranya kalau penyanyi yang pernah tampil di ajang Divas of South East Asia (Divasea) ini –konser yang mempertemukan sejumlah diva di Asia Tenggara dalam satu panggung, yaitu Vina Vanduwinata, Krisdyanti dan Titi DJ (Indonesia); Fauziah Latief dan Sheila Majid (Malaysia); serta Kuh Ledesma (Filipina) di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu– juga tercatat dalam Malaysia Book of Records sebagai artis yang paling sering memboyong penghargaan di Malaysia.

Lantaran prestasinya cukuplah mengharumkan nama negaranya, oleh Kesultanan Pahang, Siti diberi sebuah gelar kehormatan, Ahli Ahmad Shah Pahang (AAP). Sementara itu, Kesultanan Perak menganugerahinya gelar Paduka Mahkota Perak (PMP). Dua gelar kini layak ditulis di belakang nama Siti: Siti Nurhaliza binti Tajudin AAP, PMP.

Setelah meraih segudang penghargaan, adakah Siti merasa telah menjadi seorang bintang? “”Secara pribadi Siti tidak pernah merasakan diri Siti sebagai bintang. Enam tahun masih terlalu muda bagi Siti,”" ucapnya di hadapan pers, di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (13/6).

Keindahan suara, perawakan yang sedap dipandang mata –bahkan sutradara Garin Nugroho pernah mengomentari kecantikan Siti sebagai kecantikan wanita Melayu generasi terakhir– rupanya bukanlah “”satu-satunya”" kelebihan Siti. Ia juga memiliki pribadi yang tak kalah mempesona. Santun, ramah dan rendah hati.

Ia bukan pula tipe gadis yang silau mata memandang hal-hal yang berbau modern. Ia tetap seperti Siti yang dulu, sebelum menjadi siapa-siapa. Penuh kesederhanan dan tetap taat kepada pakem budaya orang Timur. Dan, rasa-rasanya, sikap seperti ini langka ditemui di antara para bintang muda di tanah air, yang selalu ngiler dengan gaya hidup yang dihembuskan oleh dunia Barat.

Bahkan, sementara banyak gadis seusianya termakan gaya Britney Spears, penyanyi pop muda asal AS yang paling tenar saat ini, pelantun hit Betapa Kucinta Padamu ini menunjukkan sikap dengan berujar lantang, “”Tidak mungkin Siti meniru Britney Spears, kerana Siti masih berpegang pada adat istiadat sebagai orang Timur. Siti tak akan meniru siapa-siapa.”"

src=”"http://www.kompas.com/gayahidup/news/0206/17/titik.jpg”" border=”"0″”>

Foto: eko hendrawan
Untuk hal tingkah laku, barangkali cukup terlihat bagaimana seorang Siti begitu sopan kepada mereka yang lebih tua. Itu antara lain tampak beberapa saat sebelum ia bersama penyanyi senior tanah air, Titiek Puspa, melantunkan lagu Bimbi yang rancak dan pernah dipopulerkan oleh Delly “”Rollies”".

Siti bercakap begini: “”Inilah orang yang sangat Siti kagumi, Ibu Titiek Puspa.”"

“”Saya juga orang yang mengkagumi Siti,”" timpal Titiek balik memuji. Seperti kata Titiek, penyanyi berkulit langsat dengan tinggi badan 163 ini adalah gadis yang santun dan rendah hati.

Pernah, cerita Titiek, saat mereka berlatih menjelang pementasan, dirinya sempat menanyai Siti perihal tinggi rendah nada dasar yang dikehendakinya. Mau tahu jawaban peraih juara pertama Shanghai Asian Song Festival 1999 ini? Dengan manis ia berucap, seperti ditirukan oleh Titiek, “”Terserah Ibu. Kalau Ibu senang, Siti juga senang.”"

***

Siti Nurhaliza dikenal publik Indonesia saat ia berusia 18 tahun lewat lagu Betapa Kucinta Padamu, yang aslinya di Malaysia berjudul Aku Cinta Padamu.

Dia bukanlah satu-satunya penyanyi dari negeri seberang yang mendapat tempat di hati para pecinta musik Indonesia. Tahun 1980-an, ada Anita Serawak, penyanyi yang berdomisili di Singapura, pernah ngetop di Indonesia dengan lagu Tragedi Buah Apel dan pernah lama bekerja di panggung pertunjukan Las Vegas (AS); lalu Sheila Majid yang sejak pertengahan 1980-an populer di sini dengan lagu Antara Anyer dan Jakarta karya Oddie Agam). Ada pula nama-nama Ella, Ning Baizura, Nora dan Azizah.

Tapi, cukuplah diakui bahwa saat ini adalah masa Siti. Seperti dikatakan Bard, salah seorang staf dari Suria Records, perusahaan rekaman tempat Siti Nurhaliza bernaung, album Betapa Kucinta Padamu di Malaysia saja berhasil terjual lebih dari 350.000 keping.

Album Sanggar Mustika, yang sedang dipromosikannya, adalah album yang, menurut Siti, berisi musik Melayu. “”Sebagai remaja Siti hendak mengajak remaja lainnya untuk mencintai musik Melayu. Siti rasa ini adalah tanggung jawab Siti memperkenalkan lagu-lagu tradisional kepada masyarakat luas,”" katanya dalam jumpa pers di Jakarta.

Untuk urusan album, tuturnya, setiap tahun ia menyiapkan dua album. Satu pop dan satu lagi album Melayu. Lanjut Siti, langkah itu merupakan upayanya untuk memenuhi cita rasa para penggemarnya, khususnya para penggemar lagu-lagu Melayu.

Hal itu memang terbukti. Album ketiganya, Cindai, yang bermuatan musik Melayu, tak hanya mendapat sambutan baik dari masyarakat Malaysia. Di Indonesia, album tersebut terjual lebih dari 100.000 keping, sementara di Malaysia terjual lebih dari 400.000 keping dan berhasil merebut lebih dari lima cakram platinum.

Sanggar Mustika sendiri berisi 10 lagu, dengan lirik yang sarat nasihat. Ada, sebut saja, Nirmala, yang dijadikan lagu unggulan untuk album itu, dan Panas Berteduh Gelap Bersuluh, yang liriknya ditulis oleh Siti sendiri. Bahkan, ada pula lagu Bunga Melor, yang dipopulerkan oleh almarhum P Ramlee, penyanyi Malaysia yang bernama harum dan menjadi idola di sini lewat lagu Kau Laksana Bulan pada awal 1950-an.

Bakal menjadi seorang penyanyi, apalagi terkenal seperti sekarang ini, anak keempat dari tujuh bersaudara pasangan Tarudin binIsmail dan Siti Salmah binti Bachik ini tak pernah memikirkan hal tersebut dalam benaknya ketika masih bocah.
Ayah Siti yang seorang polisi pernah membuat Siti kecil bercita-cita mengikuti jejaknya. Pen
ampilan Siti ketika itu sangatlah berbeda dengan yang sekarang. Dulu, ia kelaki-lakian. Tak heran, kalau Siti kecil kerap dicap dengan label Si Tomboy.
Siti besar di lingkungan keluarga yang sederhana. Bahkan, seperti ditulis situs resminya www.sitinurhaliza.com, Siti pernah membantu ibunya berjualan kuih alias kue keliling kampung. Tak ada yang bisa diperbuat olehnya, kecuali membantu orang tua dengan berjualan kue.
Namun, darah seni dari sang ibu begitu kuat mengalir pada dirinya. Ibunya adalah pesinden yang sering menyanyikan lagu-lagu Melayu. Sedangkan ayah sang ibu, Bachik bin Abdulrahman, adalah seorang pemain biola. Kemampuan seninya mulai ia pertontonkan ketika ia duduk SD, yang di Malaysia disebut SRP (Sijil Rendah Pendidikan).

Enam tahun kemudian, saat usianya genap 12, namanya mulai melambung, meski sebatas tingkat kampung. Ia menjuarai pertandingan menyanyi dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan Malaysia, lewat lantunan lagu Bahtera Merdeka.
Dari sana kepercayaan diri Siti mulai bangkit. Ia pun ketagihan tampil di depan khalayak ramai. Pada 1995, dewi fortuna rupanya datang kepadanya. Ia terpilih sebagai juara bintang HMI, yang disponsori oleh Radio Televisyen Malaysia (RTM).
Adnan Abu Hassan, seorang komposer terkenal Malaysia, adalah orang pertama yang menangkap “”bintang jatuh”" ini. Akhirnya, ia menjadi artis rekaman. Album pertamanya berjudul Jerat Percintaan dan dirilis pada 1996 di bawah bendera Suria Records.
Di usianya yang baru 20, tepatnya pada 30 Oktober 1999, ia menggelar konser tunggal di Stadium Putra, Bukit Jalil (Malaysia), yang konon menarik lebih dari 10.000 penonton. Dua tahun kemudian, 30 Juni 2001, ia menggelar konser tunggal keduanya, yang diberi nama Konser Mega Bukit Jalil. Kabarnya, konser tersebut menghabiskan anggaran sebesar sejuta ringgit Malaysia.

Adakah obsesi lain, Siti? “”Siti rasa masih banyak lagi yang perlu Siti pelajari. Ini baru percobaan Siti untuk mendapat concern lagi di Indonesia. Inginnya Siti membuat konser tunggal untuk penggemar Siti di Indonesia,”" tuturnya saat ditemui di Sudio 1 Indosiar, Jakarta, Jumat lalu. (Eko Hendrawan Sofyan)

http://www.kompas.com/

Read more from 2002
5 Comments Post a comment
  1. May 15 2007

    Assalamuailaikum siti dan suami…bila siti nak turun alor staq lagi….kalau ada masa kosong mai la buat consert kat sini lak..oh ya siti sekarang makin berisi la…ok jugak kurus sangat pun tak cantik.bila siti nak pakai tudung??

    Bye selamat maju jaya dan bahagia dengan suami tercinta.

    Reply
  2. May 15 2007

    kelakar aku baca note kat atas nih…. tunjuk lembut depan org…. bila bercakap memang lembut tapi perangai sebenar………. bukak mata besar2 dan pk kenapa cgilamour nih jadi berubah…… bukan berubah tapi inilah hakikat sebenar sape dirinya yg sebenar…. kesian fanatik2 terkena tipu…….. humehumehume

    Reply
  3. May 15 2007

    fuh… wartawan indon nih kalau kat malaysia sah jadi geng kalidah bidin

    Reply
  4. kuntau
    Jul 24 2007

    jangankan nak pakai tudung, tunjuk betis dan paha lagilah ada, sihan watikah..tok guru diorang semakin menjadi2, lambat
    lagilah no…nak tengok hippo bertudung=))

    Reply
  5. Apr 18 2010

    siti.. my favorit hehe

    Reply

Leave a comment

required
required

Note: HTML is allowed. Your email address will never be published.

Subscribe to comments